Sabtu, 02 Oktober 2010

BOOK REVIEW

I. PENDAHULUAN

Judul Buku : Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik
( Humanisme Relegius sebagai Paradigma Pendidikan Islam )
Penulis : Prof. H.Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D.
Pengantar : Prof.Ronald A. Lukens-Bull, Ph.D.
( Guru Besar University of North Florida )
Penerbit : GAMA MEDIA, Yogjakarta, 2002.

Sebuah buku yang lahir dari penelitian memang sangat menarik untuk dibaca karena tulisan yang muncul berawal dari fenomena yang ada. Demikan pula halnya dengan buku karya Prof. H.Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D.. Nuansa humanisme ( aspek kemanusiaan ) yang nyaris hilang, budaya saling menuduh dan saling menyalahkan nampaknya menjadi fenomena yang semakin lekat dalam keberagamaan di Indonesia termasuk dalam dunia pendidikan.
Paling tidak ada beberapa pertanyaan yang mesti kita ajukan sebelum kita membaca buku Menggagas Format Pendidikan Nondikotomi (Humanisme Relegius sebagai Paradigma Pendidikan Islam )


Paling tidak ada beberapa pertanyaan yang mesti kita ajukan sebelum kita membaca buku Menggagas Format Pendidikan Nondikotomi (Humanisme Relegius sebagai Paradigma Pendidikan Islam )
1. Benarkah bahwa kegagalan pendidikan dewasa ini disebabkan karena hak-hak pembelajar diabaikan ?
2. Benarkah bahwa kegagalan pendidikan dewasa ini disebabkan karena seorang guru tidak mampu memainkan perannya untuk membantu peserta didik menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang abdallah dan khalifatullah ?
3. Benarkah the spirit of inquiry termasuk didalamnya tradisi rihlah fi talab al-ilmi, penelitian empiris, membaca, dan menulis telah hilang dalam dunia pendidikan ?
4. Benarkah bahwa hanya ingin mendapatkan ijazah menjadi motivasi utama setiap pelajar dan mahasiswa di Indonesia ?
5. Benarkah pembelajaran yang diterapkan tidak mengacu pada problem-solving, common sense terlupakan, hingga kreativitas dalam pembelajaran tidak menonjol ?

I. ISI BUKU

Masih banyak persoalan yang menjadi beban pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Mulai dari beban ajar yang terlalu banyak dan padat, sampai pada profesionalitas guru yang masih belum memadai. Dalam bahasan ini masalah yang terkait erat adalah standar keberhasilan belajar yang masih menekankan bidang intelektual dan sekaligus sentralisasi standar mutu (UAN: Ujian Akhir Nasional), yang mengakibatkan masyarakat terjerumus pada keyakinan bahwa hasil UAN adalah satu-satunya ukuran keberhasilan peserta didik dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan. Hasil UAN menentukan ranking mutu sekolah, tanpa memperhatikan banyak aspek lain yang mungkin diperoleh oleh peserta didik atau lembaga sekolah yang ada. Singkatnya sistem evaluasi dan UAN yang diselenggarakan masih mengkerdilkan peserta didik sebagai pribadi manusia dan sekolah sebagai lembaga pendidikan, menjadi satu aspek saja yaitu kecerdasan yang diukur oleh UAN (kasarnya soal pilihan ganda atau benar salah).
Masalah pendidikan yang cukup penting untuk dibenahi adalah proses pembelajaran yang hanya menekankan pada aspek hafalan, ingatan, “memorizing” belaka. Ini disebabkan beberapa faktor; guru mengajar hanya menggunakan metode ceramah melulu, bentuk soal yang hanya pilihan berganda, penanaman pengetahuan yang tidak sampai pada konsep/pengertian dan nilai, dan suasana kelas yang aktif-negatif (seperti misalnya aktif mendengarkan, aktif mencatat) namun tidak aktif-positif (seperti misalnya aktif bertanya, aktif berdiskusi, aktif melakukan percobaan, aktif “mengalami”, aktif merefleksikan).
Prof.Mas’ud dalam bukunya ini mencoba menggaris bawahi hal-hal di atas adalah beberapa penyebab dari kegagalan pendidikan kita selama ini. Menurut hemat penulis inilah daya tarik dari buku ini, bahkan ketika penulis membaca buku ini seolah buku ini menghipnotis dan memberikan pencerahan bagi penulis. Prof.Masud mengawali bukunya ini dengan penegasan terminologi humanisme dalam pendidikan, humanisme di sini diartikan sebagai proses pendidikan yang lebih memerhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk social, makhluk religious: ‘abdullah dan khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensinya sekaligus bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya di dunia dan di akhirat. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu yang senantiasa mengembangkan diri di bawah petunjuk Ilahi, untuk bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan-permasalahan social. Individu dalam pandangan ini selalu aktif dalam status proses becoming menyempurnakan diri, atau istikmal. Humanisme mengajarkan, tidaklah etis untuk sepenuhnya menunggu Tuhan bertindak untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan keindonesiaan dengan carut marutnya persoalan yang tidak pernah kunjung henti. Manusia Indonesia sebagai khalifatullah harus bertindak dengan tetap mohon petunjuk dari Allah untuk merespons dengan tepat berbagai musibah.
Yang membuat saya dan mungkin rekan guru lainnya lebih bergairah lagi dalam membaca buku ini adalah bagaimana Prof.Masud memberikan gambaran sosok guru yang ideal yang bisa melahirkan sebuah pendidikan yang humanis.
UNESCO merekomendasikan pembaharuan pendidikan dan pembelajaran pada lima konsep pokok paradigma pembelajaran dan pendidikan, yaitu:
a. Learning to know
b. Learning to do:
c. Learning to live together
d. Learning to be:
e. Learning throughout life

Karena itu ketika guru memahami paradigma learning to know maka harus mampu menempatkan diri sebagai fasilitator dan bukan information supplier ( cermah oriented ). Guru harus mampu memotivasi peserta didik sehingga timbul kebutuhan dari dirinya sendiri untuk memperoleh informasi, keterampilan hidup (income generating skills), dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Prof.Masud dalam bukunya ini menegaskan bahwa saat ini secara umum para guru belum bisa memainkan fungsi ini dengan baik. Berbeda dengan pendidikan di barat sana ( Amerika misalnya ), seorang guru telah mampu membangkitkan rasa ingin tahu sehingga melahirkan sikap semangat mencari informasi baru dan kritis terhadap suatu masalah. Rendahnya sikap kritis ini pun disebabkan pula karena belum utuhnya pemahaman guru akan paradigma learning to do
Bila guru menyadari paradigma learning to do maka seorang guru harus mampu melatih seorang siswa untuk secara sadar mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah pengetahuan, perasaan. Peserta didik dilatih untuk aktif-positif daripada aktif-negatif. Pengajaran yang hanya menekankan aspek intelektual saja sudah usang.
Hal lain yang diangkat dalam buku ini adalah figur atau tokoh sebagai model atau teladan (kepala sekolah, guru, pamong, orang tua) agar yang bersangkutan memiliki kemampuan dan kesanggupan melembagakan dan membudayakan keyakinan, nilai dan norma baru pendidikan yang diharapkan.Pelaku pendidikan hendaknya menuntut dirinya untuk menjadi figur, model panutan, teladan bagi peserta didik. Kita sekarang ini sedang menderita kemiskinan idola pendidik. Proses pendidikan sebenarnya juga merupakan proses mempengaruhi orang lain. Pendidik memberikan pengaruhnya kepada para peserta didik. Pendidik menyediakan diri sebagai teladan yang patut diteladani dan menjadi kebanggaan bagi peserta didik, terutama kepribadiannya secara menyeluruh. Pendidik hendaknya sadar bahwa dirinya merupakan teladan kedewasaan, kematangan perasaan, efektivitas dan integritas pribadinya. Maka kualitas kepribadian pendidik sangat menentukan dalam proses pendidikan.
Menyoroti tentang ajaran dasar Islam tentang transmisi ilmu pengetahuan sama halnya dengan menyoroti asal usul pendidikan Islam . Ini harus disertai dengan pemahaman tentang motivasi awal proses belajar-mengajar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah deang penekanan pada pereode awal. Sebagai bukti , terdapat kaitan erat antara belajar dengan penggerak utamanya, ketika Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang sangat istimewa.Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman diantara kaum muslimin dan mereka yang berilmu.Bukti signifikansinya adalah bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi dimulai dengan perintah Tuhan “bacalah”iqra’ ( q.s.,96:1-5 ) berarti juga “mengaji”.Ulama Indonesia lebih condong menterjemahkannya “ membaca”.Mengenai ontology pendidikan Islam yang tidak mengenal dikotomi, pendidikan Islam harus mengacu pada ajaran dasar Islam itu sendiri yang tidak memilah-milah antara dunia dan akherat. Addunya limazra’atil akhirah ‘ dunia adalah lading penanaman untuk persiapan akhrat’. “Siapa yang menanam maka akan mendapatkan” dalah ajaran popular Islam. Disebutkan bahwa , ‘ doa sapu jagat’ yang intinya memohon kebahagiaan dunia akhirat juga diucapkan setiap muslim di seluruh dunia, membuktikan bahwa islam tidak mengenal dikotomi.
Keberagaman yang cenderung Menekankan hubungan Hubungan Vertikal dan Kesemarakan Ritual. Sebagai Akibat dari Persoalan Pertama di Atas, Kesalehan Sosial Agaknya Masih Jauh dari Orientasi Masyarakat Kita. Potensi Peserta Didik Belum dikembangkan secara professional, Pendidikan belum Berorientasi pada Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Belum Individual – Oriented.Kemandirian Anak Didik dan Tanggung Jawab (Responsibility) Masih Jauh dalam Capaian Dunia Pendidikan.
Aspek2 Penting Dalam Humanisme Religius
- Common sense atau akal sehat. (Common sense:using good judgement Problem solving: putting what you know and what you can do into action)
- Individualisme menuju kemandirian
- Thirst for knowledge
- Pendidikan pluralisme
- Pendidikan Nondikotomik
- Kontekstualisme lebih mementingkan fungsi dari simbol.
- Keseimbangan antara reward dan punishment
Humanisme relegius adalah sebuah konsep keagamaan yang menempatkan manusia sebagai manusia, serta upaya huanisme ilmu-ilmu dengan tetap memerhatikan tanggug jawab hablum minallah dan hablum ninannas. Implementasi konsep in agaknya merupakan sebuah kebutuhan yang mendesakkarea fenomena dunia pendidikan yang ada serta keeragaman masyarakat mengisyartkan keberagaman vertikal dan kesemarakan ritual, kesolehan sosial masih jauh dari orientasi masyarakat kita, potensi peserta didik belum dikembangkan secara proposional, kemandirian anak didik dan responsibility masih jauh dalam dunia pendidikan Indonesia.
Dalam sebuah buku, Learning Revolution, disebutkan bahwa pada umumnya orang tua menggunakan lima tahun pertama putranya untuk menjadikan anak pandir, yang tadinya lahir dalam keadaan jenius. Lagi-lagi jika buku the Learning Revolution itu ditujukan pada masyarakat internasional, berarti bahwa proses pembodohan dimana akal sehat tidak berjalan terjadi dimana-mana, tidak hanya di Indonesia. Inilah pentingnya mempertimbangkan akal sehat dalam segala bentuk kegiatan dan orientasi pendidikan.
Membaca dari buku Prof.H.Abdurrhman Mas’ud, M.A, Ph.D. yang berjudul Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik ( Humanisme Relegius sebagai Paradigma Pendidikan Islam mengingatkan kepada kita, bahwa pendidikan Islam yang sangat penting “ vital ‘ , yang dulu telah dibuktikan sejarah berabad-abad, tetapi kini justru mengalami mandul. Pendidikan Islam perlu mendapatkan perhatian sekaligus penanganan dari pemikir-pemikir Islam sekaligus praktisi pendidikan Islam.Betapapun, sebagaimana negara-negara berkembang, Indonesia masih mengalami masalah pluralisme. How to accept others, while we disagree? Bagaimana kita bisa menerima pihak lain sementara kita tidak menyetujuinya adalah definisi sederhana pluralisme yang mamang selalu melibatkan aspek toleransi. Perubahan paradigma dalam dunia pendidikan Islam, misalnya perubahan dari punishment-orieted ke reward-oriented secara proposional edukatif dalam rangka memperdayakan siswa. Juga perlu dalam aspekguru, aspek metode pembelajaran, institusi kelembagaan, aspek murid, aspek materi kurikulum serta aspek evaluasi. Semuanya masih perlu adanya pembenahan ke arah perbaikan, sehingga pendidikan Islam di Indonesia tidak terpuruk adanya dikotomik pendidikan.
Begitu banyaknya problematika pendidikan Islam, menyadarkan kepada kita akan pentingnya revitalisasi dan reposisi pendidikan Islam. Hal ini dapat diperkenalkan humanisme relegius sebagai paradigma baru. Mengapa ? Karena ada sesuatu yang salah ( something wrong ) dalam pendidikan Islam.Problematika system pendidikan cukup kompleks sebagaimana permasalahan dunia Islam itu sendiri. Baik itu masalah social institutions maupun social ethies. Yang termasuk diantaranya pranata social adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sudah berabad-abad tidak mampu menandingi supremasi schooling dunia Barat. Think globally act locally ‘berpikir secara mondial dan bertindak secara local agaknya perlu kita pertimbangkan dalam rangka memecahkan masalah dunia Islam.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar